OPINI: Pakkiok Bunting yang Ditelan Zaman

Karya sastra yang baik adalah sebuah karya yang dapat memberikan
kontribusi bagi masyarakat. Hubungan sastra dengan masyarakat pendukung nilai nilai kebudayaan tidak dapat dipisahkan karena sastra menyajikan kehidupan dan sebagian besar terdiri atas kenyataan sosial (masyarakat), walaupun karya sastra meniru alam dan dunia subjektif manusia.

Di samping itu sastra berfungsi sebagai kontrol sosial yang berisi ungkapan sosial beserta problematika kehidupan masyarakat. Masalah kesastraan, khususnya sastra daerah merupakan masalah kebudayaan nasional yang perlu digarap dengan sungguh-sungguh dan berencana. Sastra daerah itu merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang bangsa Indonesia.
Di era globalisasi dan zaman modern banyak masyarakat Makassar yang sudah tidak memperhatikan budaya dan adat istiadat, terutama generasi muda yang lebih dominan mengadopsi budaya negara lain. Hal ini berakibat pada kurangnya perhatian terhadap beberapa budaya yang tidak terkecuali perkawinan budaya atau adat dimana ada budaya ‘Pakkiok Bunting’ yang sangat jarang ditemukan di pertengahan masyarakat kita pada hari ini. Tradisi Makassar kaya makna yang ingin di sampaikan salah satu tradisi dalam adat perkawinan suku Makassar di Sulawesi Selatan
yang menarik adalah prosesi penyambutan pengantin yang disertai penuturan syair Pakkiok Bunting.Frasa Pakkiok Bunting (bahasa Makassar) terdiri atas dua kata yakni pakkiok artinya pemanggil atau penyambutan dan bunting berarti pengantin atau mempelai.
Syair Pakkiok Bunting merupakan salah satu sastra lisan suku Makassar
berupa serangkaian larik larik puitis yang digunakan dalam prosesi penyambutan pengantin.

Zaman dahulu, jika rombongan pengantin sudah tiba di rumah pasangan
pengantin tersebut, mereka tak akan menaiki anak tangga atau masuk ke rumah jikamereka tidak di panggil secara resmi. Dan biasanya, jika lantunan Pakkiok Bunting sudah diucapkan, si pelantun juga menaburkan beras kepada pengantin tersebut. Nilai-nilai tersebut meliputi nasehat mengembangkan tanggung jawab, nasehat untuk menjaga kesetiaan terhadap pasangan, dan anjuran untuk membiasakan hidup sederhana.

Dengan demikian, penyambutan pengantin yang
sertai dengan syair Pakkiok Bunting selain sebagai hiburan, menambah kemeriahan suasana pesta perkawinan juga memberi nilai tambah dengan penghayatan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam syair.Kemeriahan suasana tercipta dari balasan atau sahut-sahutan yang riuh dari seluruh pendengar syair Pakkiok Bunting yang ada di tempat tersebut tatkala pelantun syair Pakkiok Bunting menyelesaikan setiap kalimatnya.

Syair Pakkiok Bunting menjadi salah satu bentuk interaksi di ajarkan oleh tetua kita antara keluarga mempelai wanita yang diwakili oleh penutur Pakkiok Bunting dengan keluarga mempelai pria.Dalam interaksi tersebut terjadi komunikasi penyampaian nilai-nilai kehidupan yang sangat penting dalam membina rumah tangga. Nilai-nilai tersebut tidak hanya berguna dalam pembinaan sikap dan perilaku bagi pengantin baru tapi juga penting dipahami oleh seluruh masyarakat yang hadir dalam acara tersebut. Saat ini, eksistensi syair Pakkiok Bunting kian terpinggirkan.Orang yang bisa menjadi penutur syair Pakkiok Bunting sangat terbatas sehingga masyarakat yang berhajat sering kesulitan untuk menghadirkan seorang Pakkiok Bunting di lokasi hajatan.Keadaan ini sangat memprihatinkan karena potensi hilangnya salah satu kekayaan budaya ini semakin besar di zaman modern ini. 

Makna dalam pakkiok bunting :

Iya dende-iya dende
Nia tojeng mi antu mae
Bunting salloa ni tayang

( Ekspresi kebahagiaan
Telah tiba Pengantin yang telah lama dinanti )
Kutipan diatas termasuk makna refleksi karena terdapat kata Iya
dende yang dituturkan oleh Pakkiok Bunting saat melihat calon pengantin
pria telah tiba dirumah calon pengantin wanita

Ni lema lema pole ri bija pammanakanna
Pammanakang lanri anrong bija battu ri manggena

(Bersama pula dengan keluarganya
Keluarga dari ibu dan ayahnya)
Kutipan diatas termasuk makna konseptual karena menggunkan
makna sebenarnya seperti kata bija pammanakanna (kelurga) yang
bermakna ibu dan bapak beserta anak-anaknya;seisi rumah.

Pa’mai baji nu battu
baji todong nu battue

( Datang dengan perasaan yang baik
dan perasaan baik pula yang kamu datangi )
Kata Pa’mai baji (perasaan) pada kutipan diatas memiliki makna rasa
atau keadaan batin sewaktu menghadapi ( merasai ) sesuatu. Kutipan di atas merupakan makna konseptual karena menggunkan makna sebernarnya.
Iya minne salloa ni minasai
Ku minasaiko sunggu daeng bunting

(Inilah yang lama diharapkan
Kuharap kau sungguh-sungguh wahai pengantin)

Kata Minasai pada kutipan diatas bermakna keinginan supaya
sesuatu terjadi.Makna konseptual pada kutipan diatas yaitu harapan kepada kedua mempelai untuk serius dalam menjalani kehidupannya setelah menikah.

Luara tamparang luarangngang nawa-nawannu
(Luas lautan lebih luas pikiranmu)
Kata Tamparang (lautan) dalam makna sebenarnya berarti laut yang
luas. Namun dalam kutipan diatas kata lautan tidak bermakna laut yang luas melainkan dimaknai sebagai pandangan atau pola berpikir yang luas dari sang pengantin. Kutipan diatas termasuk makna konotatif karena
menggunkan kata kiasan Tamparangyang tidak merujuk kepada lautan
melainkan merujuk pada luasnya pola pikir

Ku alleangko anne baji
bunga bunga tamalate
tama late cinikanna.

(Kuberikan yang baik
bunga bunga yang tak akan layu
tidak layu pandangannya)

Kata bunga berarti tumbuhan yang akan menjadi buah, biasanya elok
warnanya dan harum baunya. Namun pada kutipan diatas makna bunga
diibaratkan pasangan hidup dalam hal ini pengantin wanita oleh karena itu, kutipan diatas termasuk makna konotatif.

Kuassengki lania naku lamung unti te’ne ri tuka’ku
anggoro’ ri paladangku, dalima rigantiroku
(Kutau engkau akan datang dan kutanam pisang di tangga rumahku
anggur di teras rumahku, delima di halaman rumahku)
Kata unti te’ne, anggoro’ dan dalima bila diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia berarti pisang manis, anggur dan delima. Kata pisang
manis, anggur dan delima berkolokasi dengan buah-buahan

Nakana daeng bainea
punna kamma antu kananta
sikatutui maki tope
ki sisassa mole-mole
ka tenamo poteranna maloloa

(Pengantin wanita berkata
jika begitu yang engkau katakana
mari kita jaga selendang
saling mencuci berulang kali
karena tidak akan kembali masa muda)
Kata Tope (sarung) memiliki makna konseptual sampul + salut +
pembungkus.Pada kutipan diatas makna kata Tope diartikan sebagai pakaian
yang dipakai oleh pengantin. Kutipan diatas merupakan makna konotatif.

Bunting ta bunting naik ngaseng mako mae
(Pengantin dan arakannya naiklah kemari)
Pada kalimat naik ngaseng mako maemengandung makna afektif
karena terdapat nilai rasa dalam hal penerimaan.

Teks di atas sepenggal bait bait pakkiok bunting tradisi lisan masyarakat Makassar. Begitu hebat para petuah Makassar cara menyampaikan ekpresi kebahagiannya ketiak sang anak telah menikah di era modern ini jarang kami jumpa lagi syair syair pakkiok bunting. Semoga tulisan ini bermafaat dan dapat mendorong generasi muda untuk mempelajari tradisi yang hampir hilang di adat pernikahan orang Makassar di zaman ini.

Penulis:

HASYIM

Semester Akhir Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah Jurusan bahasa dan Sastra indonesia Fakultas Bahasa dan Sastra UNM

Leave a Reply