Gegara Rapid Test, Keluarga Minta Tim Gugus Takalar Rehabilitasi Nama Baik

TAKALAR, KILOMETER40.COM– Akurasi Rapid Test kembali dipertanyakan. Kali ini terjadi di Takalar, Sulawesi selatan.

R, 65, pasien yang terungkap terpapar corona usai menjalani rapid tes, Kamis 30 April 2020 silam. R menjalani opname di RSUD Padjonga Dg Ngalle Takalar karena keluhan nyeri perut. Namun karena seluruh pasien diberlakukan protokol covid, maka R juga harus menjalani rapid test.

Hasil rapid test pasien R kemudian diberitakan oleh salah satu media online. Ketua gugus Takalar, dr Rahma menjadi narasumber yang membenarkan.

Informasi Positif Covid-19 pasien R bergulir begitu cepat. R yang diketahui merupakan pengusaha penggilingan bakso, kini dinyatakan negatif setelah melalui Tes SWAB di RS Wahidin Soedirohusodo Makassar.

Putri R, Sumarmi, S.Kep, Ns, M.S, Ph.D, tak kuasa menyembunyikan kekecewaannya. Menurutnya, ada Standar operasional yang harus diperhatikan oleh Tim Gugus Takalar.

“Hasil Rapid Test yang positif tersebar di masyarakat dengan menyebut initial nama, usia,
alamat, pekerjaan dan usaha bapak saya yaitu penggilingan bakso yang membuat masyarakat panik dan keluarga saya dikucilkan.”kata Sumarmi melalui keterangan tertulis, Kamis (7/5/2020).

Sumarmi yang sedang menempuh pendidikan doktoral di Taiwan menambahkan bahwa seharusnya sebagai tenaga kesehatan yang disumpah, harus menjaga kerahasiaan identitas pasien apalagi informasi tersebut belum akurat.

“Hasil rapid test tidak bisa dijadikan acuan bahwa jika hasil rapid testnya positif maka pasien positif terinfeksi virus covid-19. Jangan langsung buru-buru dipublish sebelum hasil SWAB keluar. Dampak sosial dan ekonomi covid ini luar biasa.”tambahnya.

Malah, perempuan yang merupakan tenaga pengajar kesehatan di beberapa perguruan tinggi ini mengaku memperoleh bocoran percakapan para tenaga medis di RSUD Padjonga.

“Dampak dari menyebarnya informasi identitas bapak saya
dengan hasil rapid test yang positif adalah munculnya berita-berita yang tersebar melalui group-group whatsapp yang menyudutkan usaha penggilingan bakso bapak saya. Ada kalimat-kalimat seperti “jangan makan bakso di Takalar karena yang punya penggilingan bakso positif corona”. Semua penjual bakso di Takalar jadi sepi pembeli dan penggilingan bakso tutup.”tulis Sumarmi.

Menurutnya, Isu hoax bapaknya, berawal dari hasil positif rapid test yang menyebar melalui group whatsapp tenaga kesehatan di RS H. Padjonga dg. Ngalle Takalar.

“Itu sudah sangat merugikan, keluarga saya dan perekonomian orang-orang di sekitar bapak saya. Saya berusaha meminta bantuan ke humas covid-19, tim satgas covid-19 Takalar, akan tetapi tanggapan dari mereka tidak sesuai harapan saya.”tambahnya.

Sumarmi terakhir meminta Kepada Direktur RS H. Padjonga dg Ngalle agar
menulis surat permohonan maaf secara terbuka.

“Permohonan maaf secara terbuka Kepada keluarga saya di media dan bisa menyelesaikan permasalahan bocornya kerahasiaan identitas pasien ke publik secara internal. Karena dimasa pandemik seperti sekarang ini, tindakan staff bapak/ibu berdampak besar terhadap pasien, keluarga dan orang disekitarnya.”kuncinya.(*)

Leave a Reply